3 Pebulu Tangkis yang Tinggalkan Paspor Indonesia Setelah Raih Medali Olimpiade, Nomor 1 Ardy B Wiranata!

Read Time:2 Minute, 41 Second

SEBANYAK 3 pebulu tangkis yang memilih meninggalkan paspor Indonesia setelah meraih medali Olimpiade untuk Indonesia akan diulas Okezone. Indonesia memiliki banyak pebulu tangkis jempolan sejak sekira 60 tahun lalu.

Saking hebatnya, banyak pebulu tangkis Indonesia yang ditarik negara lain. Mereka dinaturalisasi untuk mengembangkan olahraga bulu tangkis di negara tertentu.

Tak tanggung-tanggung, sederet pebulu tangkis Indonesia yang diambil negara lain berpengalaman meraih medali Olimpiade. Lantas, siapa saja pebulu tangkis yang dimaksud?

Berikut 3 pebulu tangkis yang meninggalkan paspor Indonesia setelah meraih medali Olimpiade:

1. Ardy B Wiranata

Ardy B Wiranata PB Djarum

Nama pertama ada Ardy B Wiranata. Ia memenangkan medali perak Olimpiade Barcelona 1992 setelah tumbang dari tunggal putra Indonesia lain, Alan Budikusuma, di partai puncak dengan skor 12-15 dan 13-18.

Setelah membantu Indonesia memenangkan trofi bergengsi seperti Piala Thomas 1994 dan 1996, Ardy B Wiranata memilih pensiun pada 2000 atau di usia 30 tahun. Tak lama setelah pensiun, Ardy B Wiranata melanjutkan karier dengan menjadi pelatih di Amerika Serikat.

Tak lama berselang, ia pindah ke Kanada dan menetap di Kota Calgary. Singkat kata, Ardy B Wiranata mendapatkan kewarganegaraan Kanada pada 2014 dan menetap di negara Amerika Utara itu hingga kini.

2. Mia Audina

Mia Audina

Mia Audina lolos ke final Olimpiade Atlanta 1996 di usia yang masih sangat muda, yakni 16 tahun. Berhadapan dengan jagoan Korea Selatan Bang Soo-hyun, Mia Audina tumbang 6-11 dan 7-11.

Setelah itu, Mia Audina meraih medali emas SEA Games 1997 nomor tunggal putri dan berperan mengantarkan Indonesia memenangkan trofi Piala Uber 1994 dan 1996. Singkatnya pada 1999, Mia Audina pindah ke Belanda dan mendapatkan warga negara setempat pada 2001.

Selain karena dinikahi pria asal Belanda, alasan Mia Audina pindah ke Negeri Kincir Angin karena sempat kehilangan motivasi efek sang ibu meninggal dunia.

“Bukan karena ikut suami (pindah ke Belanda) ya banyak kurang lebihnya seperti itu. Tetapi, banyak cerita di belakang itu. Salah satu alasannya karena mama saya meninggal,” kata Mia Audina, Okezone mengutip dari YouTube PB Djarum.

“Saya selalu main buat mami yang sudah sakit beberapa tahun lalu, dan saya selalu bermain buat dia, membiayai dia, dan sebagainya. Begitu mami sudah tidak, ada saat saya masih berusia muda yaitu 19 tahun, jadi harus punya sesuatu yang baru, lingkungan baru. Semuanya untuk bisa maju terus,” tutup Mia Audina.

3. Tony Gunawan

Tony Gunawan Candra Wijaya AFP

Tony Gunawan yang berpasangan dengan Candra Wijaya, meraih medali emas Olimpiade Sydney 2000 nomor ganda putra setelah menang 15-10, 9-15 dan 15-7 atas ganda putra Korea Selatan, Lee Dong-soo/Yo Yoong-sung di partai puncak.

Setahun berselang, Tony Gunawan keluar sebagai juara dunia setelah menumbangkan pasangan Korea Selatan, Ha Tae-kwon/Kim Dong-moon, dengan skor 15-0 dan 15-3. Pada 2002 atau di usia 27 tahun, keputusan mengejutkan diambil Tony Gunawan.

Ia memilih meninggalkan Indonesia untuk menuju Amerika Serikat. Di Negeri Paman Sam, Tony Gunawan aktif sebagai pemain dan pelatih.

Setelah menetap di Amerika Serikat, prestasi  Tony Gunawan tidak menurun. Berpasangan dengan pebulu tangkis Amerika Serikat Hoaward Bach, Tony Gunawan merebut gelar juara dunia 2005 nomor ganda putra. Di final, pasangan ini mengalahkan jagoan ganda putra Indonesia saat itu, Candra Wijaya/Sigit Budiarto dengan skor 15-11, 10-15 dan 15-11.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Previous post Heboh! China Ungkap Cadangan Emas Raksasa di Dasar Laut
Next post Panda bayi “Rio” di Indonesia makin sehat dan viral
Close